Gambar ABA (Applied Behavior Analysis) Jakarta - Indonesia

Akhir-akhir ini penggunaan ABA yang betul dan benar mulai terkikis
Kini mari kita canangkan:
Kembali Ke ABA - Back To ABA

Lebih Cepat Lebih Baik

Terapi Autis/Autism/Autisme/Autistik Metode Applied Behavior Analysis (ABA/Lovaas) & Biomedical Intervention - Jakarta, Indonesia

Intervensi Dini Dengan Applied Behavior Analysis (ABA/Lovaas), Dan Biomedical Intervention Merupakan Metode/Terapi Utama Untuk Autis/Autism/Autisme/Autistik/ASD (Autistic Spectrum Disorder)
ABA Adalah Metode Ilmiah Yang Sistematik, Terstruktur, Dan Terukur, Dan Telah Terbukti Efektif Dan Efisien Berdasarkan Penelitian Untuk Terapi Autisme, Sedangkan Terapi Yang Lain Hanyalah Tambahan Jika Diperlukan Saja

AUTISME? Siapa Takuuut...?!

Autism Is Cureable !
Autism Is Treatable !
Autisme Bisa Sembuh...!!!

Ayo Verbal...! Ayo Sekolah Reguler...!

 
Tanggal
Jam
MOHON MAAF, SITUS MASIH DALAM PENGEMBANGAN (SORRY, THIS SITE IS UNDER CONSTRUCTION)
Selamat Datang di Back To ABA
Anda Pengunjung Ke-
5119
Sejak 31 Maret 2011
Saat ini ada » 2 « user OnLine

Pelatihan (Training) / Seminar
» Pelatihan (Training) / Seminar ABA (Applied Behavior Analysis) Untuk Terapi Autisme / Spektrum Autistik
» Bagi Orangtua, Terapis, Dokter, Dan Profesional lainnya
Pelatihan (Training) Secara Umum
ATAU
Pelatihan Privat Untuk Orangtua Dan (Calon) Tim Terapis
Informasi
021-7108-2000
Tim kami juga membantu melakukan assessment / re-assessment, serta penyusunan kurikulum/program, dan evaluasi harian serta evaluasi bulanan

Kerjasama
Terbuka peluang kerjasama bagi Klinik/Penyelenggara Terapi yang ingin/sudah menggunakan ABA (Applied Behavior Analysis)
Informasi
021-7108-2000

Info Pelatihan (Training) / Seminar
 
 
 
 
 
 

Oleh-oleh Pelatihan / Seminar
 
 
 
 
 
 

5 Artikel Terakhir
[ RINGKASAN 03 DARI 17 – BIOMEDICAL INTERVENTION THERAPY] A L E R G I M A K A N A N
[ RINGKASAN 02 DARI 17 – BIOMEDICAL INTERVENTION THERAPY] MEMPERBAIKI DIET
[Ringkasan 01 dari 17] ::: Biomedical Intervention Therapy Untuk Autisme
Melalui Epigenetik - Autisme Bisa Disembuhkan Dengan Obat
Terapi Intervensi Dini Pada Autisme
daftar artikel selengkapnya

10 Artikel Paling Banyak Dibaca
2340Melalui Epigenetik - Autisme Bisa Disembuhkan Dengan Obat
2333Stem Cell Therapy (Terapi Sel Induk) Pada Autisme
2257Terapi Intervensi Dini Pada Autisme
2219Pemilihan Metode Terapi Untuk Autisme
1802Applied Behavior Analysis (ABA/Lovaas) Untuk Autisme
1729Penyebab Autisme
1662Epidemiologi Autis-Autism-Autisme
1621Terapi IVIG/IVGG Untuk Autisme
1570Kontroversi Hubungan Antara Vaksin Dan Autisme
1538Biomedical Intervention Therapy Untuk Autisme

10 Artikel Terakhir Dibaca
[ RINGKASAN 02 DARI 17 – BIOMEDICAL INTERVENTION THERAPY] MEMPERBAIKI DIET
Melalui Epigenetik - Autisme Bisa Disembuhkan Dengan Obat
Masalah Rivalitas Pada Saudara Kandung Penyandang Autisme
Perceraian Pada Keluarga Yang Mempunyai Anak Autistik
Antara Ajax dan PHP -dengan- Autisme dan ABA (Applied Behavior Analysis)
Dragons Den Dan Kesembuhan Autisme
Lie To Me (Bohongilah Aku)
Me-Day Bagi Orangtua Penyandang Autisme
Jangan Benci Ibumu
Jepang Menghentikan Penggunaan Vaksin Meningitis Dan Pneumonia

Fans & Friends
login | daftar
saat ini ada » « friends online
 
 
 
 

Link: kid-ABA.com
kidABA.com = Klinik Intervensi Dini Autis/Autism/Autisme/Autistik Applied Behavior Analysis (ABA/Lovaas)

Beritahu Teman
Nama Anda
E-Mail Anda
Nama Teman
Imil Teman

Pesan Anda (maks.250 karakter)

Autism Awareness - 1 April

 

 

 

Intervensi Dini Autisme: Applied Behavior Analysis (ABA) dan Biomedical Intervention

Intervensi Dini Autisme / ASD (Autistic Spectrum Disorder):
Hari Ini Anak Didiagnosis Autisme - Hari Ini Juga Dimulai Terapi
Dengan Applied Behavior Analysis (ABA) Dan Biomedical Intervention

ABA dimulai dengan latihan duduk dan kontak mata, Biomedical Intervention dimulai dengan CFGFSF diet

Penulis: Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS, SPdI


Reply Retweet Favorite

Gambar Autisme Tanda-GejalaAutisme adalah gangguan perkembangan nerobiologi yang berat yang terjadi pada anak sehingga menimbulkan masalah pada anak untuk berkomunikasi dan berelasi (berhubungan) dengan lingkungannya. Penyandang autisme tidak dapat berhubungan dengan orang lain secara berarti, serta kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain terganggu karena masalah ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dan untuk mengerti apa yang dimaksud oleh orang lain. Tanda-tanda/gejala ini sudah nampak jelas sebelum anak berusia 3 tahun, dan kemudian berlanjut sampai dewasa jika tidak dilakukan intervensi yang tepat.

Penyandang autisme memiliki gangguan pada interaksi sosial, komunikasi, imajinasi, serta pola perilaku yang repetitif (berulang-ulang), dan resistensi (tidak mudah mengikuti/menyesuaikan) terhadap perubahan pada rutinitas. Gangguan pada interaksi sosial ini menyebabkan mereka terlihat aneh dan berbeda dengan orang/anak lain. Gangguan pada komunikasi yaitu terjadi pada komunikasi verbal (lisan/dengan kata-kata) maupun non verbal (tidak mengerti arti dari gerak tubuh, ekspresi wajah, dan nada/warna/intonasi suara). Gangguan pada imajinasi ini menyebabkan anak kesulitan dalam hal aktivitas dan bermain, sehingga bermain dan beraktivitas berbeda dengan orang/anak lain, misalnya hanya mencontoh dan mengikuti suatu hal secara kaku dan berulang-ulang.

Terapi/Intervesi Dini Pada Autisme

Yang dimaksud dengan Intervensi Dini yaitu terapi/tatalaksana yang dilakukan terhadap anak dengan usia sejak lahir sampai dengan usia 3 tahun (terapi/tatalaksana dimulai sebelum usia 3 tahun) yang dilakukan pada anak-anak yang memiliki kecacatan (disability), keterlambatan perkembangan (developmental delay) atau yang berisiko untuk keterlambatan yang signifikan.
Developmental delay yaitu masalah pada kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosial, atau berpikir/kepandaian. Disability yaitu ketidak-mampuan seseorang dalam hal fisik, kognitif, mental, panca-indra, emosional, perkembangan, atau kombinasi hal-hal tersebut.
Umumnya suatu kelainan hanya melibatkan salah satu bidang saja pada bidang reseptif/sensorik (kemampuan penginderaan), kognitif (kemampuan pemahaman/kecerdasan), atau ekspresif (kemampuan mengungkapkan/ menyatakan apa yang ada di dalam pikirannya). Pada autistik, umumnya ketiga bidang tersebut terkena dampaknya. Sehingga, pada masalah yang hanya meliputi satu bidang saja harus dilakukan intervensi dini, maka apalagi pada autistik yang meliputi seluruh ketiga bidang tersebut, yaitu harus dan tidak bisa ditawar lagi untuk dilakukan intervensi dini.

Alasan untuk intervensi dini yaitu sehubungan dengan plastisitas otak, di mana sebelum usia 3 tahun otak relatif jauh lebih plastis dibandingkan dengan di atas 3 tahun. Plastisitas otak (brain/neuroplasticity) atau disebut juga pemetaan-kembali otak (cortical re-mapping), adalah kemampuan otak manusia untuk berubah sesuai dengan pengalaman/stimuli (rangsangan-rangsangan) yang didapat/diterima oleh otak, yaitu dimana otak yang terdiri dari sel-sel syaraf (neuron) dan sel-sel glial (neuroglial, berasal dari bahasa Yunani glia yang berarti lem. Yaitu sel-sel non-neuron yang memelihara homeostasis, membentuk myelin/selubung-saraf, serta memberi dukungan dan perlindungan bagi sel-sel neuron) saling berhubungan, dimana berbagai stimuli yang terjadi dapat mengakibatkan perubahan pada kekuatan koneksi satu-sama-lain, atau terjadi penambahan/penghilangan suatu koneksi, atau terbentuknya sel-sel baru.

Penelitian membuktikan bahwa pemberian stimuli (proses pembelajaran) yang tepat dapat merubah perilaku dan kognisi karena terjadi modifikasi koneksi-koneksi antara sel-sel neuron yang ada, maupun terjadinya pembentukan sel-sel neuron baru (neurogenesis). Pada abad 20 ini sebelumnya diyakini bahwa sel-sel otak tidak dapat berkembang setelah periode usia tertentu, dan sel-sel otak yang sudah “mati” tidak dapat “hidup” kembali, serta (terutama) tidak bisa “terlahirnya” sel-sel neuron baru (neurogenesis). Namun penelitian-penelitian modern  membuktikan bahwa hal-hal ini bisa/mungkin terjadi, bahkan pada seluruh bagian otak, di sepanjang usia. Neroplastisitas ini dapat merubah struktur (anatomi) otak maupun fungsinya (fisiologi).

Hasil terbaik adalah jika intervensi mulai dilakukan sebelum anak berusia 3 tahun, yang disebut sebagai intervensi dini. Penundaan dimulainya terapi akan mempengaruhi hasil jangka panjang (mengurangi keberhasilan). Bagaimana jika anak sudah berusia di atas itu atau jauh di atas itu? Mohon diperhatikan bahwa alasan intervensi dini adalah karena di bawah usia 3 tahun, otak relatif *lebih* plastis dibanding di atas usia 3 tahun. Jadi, usia berapapun seorang anak autistik, harus dan bisa dilakukan intervensi, namun tidak lagi disebut sebagai intervensi dini.

Pemilihan Metode/Terapi Untuk Autisme

Di antara berbagai metode yang ada untuk terapi dan edukasi penyandang autisme, maka ABA (Applied Behavior Analysis) lah yang telah sangat luas diterima sebagai metode yang efektif dan efisien  
Sebagaimana dinyatakan oleh U.S. Public Health Service (1999): Mental Health: A Report of the U.S. Surgeon General states,“Thirty years of research demonstrated the efficacy of applied behavioral methods in reducing inappropriate behavior and in increasing communication, learning, and appropriate social behavior”
Sebagaimana juga yang dinyatakan pada tahun 1997 oleh US Department Of Health dan NYSDOH (New York State Department Of Health), yaitu: “ABA is the only intervention reccomended in autism”.
Dan juga dinyatakan oleh AAP (American Academy Of Pediatrics, 2007), yaitu: The benefit of ABA-based interventions in autism spectrum disorders (ASDs) "has been well documented" and that "children who receive early intensive behavioral treatment have been shown to make substantial, sustained gains in IQ, language, academic performance, and adaptive behavior as well as some measures of social behavior."

Sedangkan selain ABA dan Biomedical Intervention, terapi-terapi lainnya merupakan terapi tambahan/pelengkap jika diperlukan saja, dan tambahan tersebut hanya terbatas pada masalah yang ada saja yang terkait dengan terapi tambahan/pelengkap tersebut.

Masalahnya dengan terapi tambahan/pelengkap yang dipraktekkan untuk autistik di Indonesia, yaitu tidak berdasarkan kebutuhan anak-anak autistik. Praktek yang lazim dikerjakan adalah menerapkan dengan begitu saja seluruh program yang ada dalam kurikulum terapi tambahan/pelengkap tersebut tanpa dikaitkan dengan kebutuhan anak. Seharusnyalah sebelum menyusun kurikulum/program, perlu dilakukan assessment (pemeriksaan/penilaian) terhadap anak, kemudian disusun kurikulum/program yang sesuai (link and match) dengan hasil yang didapat pada assessment. Namun sering assessment ini tidak dikerjakan, ataupun dibuat hanya sekedar formalitas, dan semua aktivitas yang ada di dalam kurikulum terapi tambahan tersebut tetap saja diterapkan semuanya, padahal sebenarnya mungkin hanya 1-2/beberapa saja sebenarnya yang dibutuhkan, bahkan mungkin juga sebenarnya tidak dibutuhkan.

Karena kita berkejar-kejaran dengan waktu, maka orangtua harus pandai-pandai agar jangan sampai terjadi buang-buang uang, waktu, tenaga, padahal tidak diperlukan. Padahal waktu tersebut bisa digunakan untuk terapi ABA (Applied Behavior Analysis). Jadi, sebelum dilakukan terapi/intervensi apapun, mohon orangtua memintakan hasil assessment, dan kurikulum/program/aktivitas apa yang akan dilakukan oleh terapis pada anak kita. Orangtua mohon kritis jika ternyata rencana kurikulum/program/aktivitas tidak sesuai (tidak link and match) dengan hasil assessment. Jangan takut dikatakan cerewet, karena itu adalah hak dari ortu, bagian dari informed consent. Kitalah dan anak-anak kitalah yang akan menanggung akibatnya jika kita buang-buang waktu, tenaga, dan uang, secara sia-sia.

Applied Behavior Analysis (ABA/Metode Lovaas)

ABA (Applied Behavior Analysis) yaitu suatu ilmu perilaku terapan untuk mengajarkan dan melatih seseorang agar menguasai berbagai kemampuan yang sesuai dengan standar yang ada di masyarakat. Penggunaan ABA tidak hanya terbatas pada autisme saja, tetapi sangat luas diterapkan dalam berbagai bidang, yaitu misalnya olahraga, manajemen, pendidikan, vocational-skill (keterampilan misalnya dalam pendidikan pilot pesawat terbang), dlsb.

Dasar-dasar ABA sudah dikembangkan sejak mulai 1 abad yang lalu, dan melalui berbagai penelitian yang luas dan banyak sekali. ABA untuk penyandang autisme pertama kali diterapkan oleh Prof.  Ole Ivaar Lovaas (meninggal dunia pada 2 Agustus 2010 dalam usia 83 tahun) di UCLA (University of California, Los Angeles) pada tahun 1962. Kemudian beliau mempublikasikan hasilnya pada tahun 1967 dan berbagai publikasi penelitian-penelitian lainnya pada tahun-tahun berikutnya. Publikasi monumental ini menyebabkan ABA dikenal juga sebagai Metode Lovaas.

Sejak itu sampai sekarang, tehnik-tehnik maupun kurikulum ABA untuk penyandang autisme sudah sangat dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi ABA, dengan melalui berbagai penelitian dan penerapan, sehingga membuahkan hasil yang menakjubkan dalam terapi autisme. Oleh karena itulah ABA sangat direkomendasikan oleh NYSDOH (New York State Department Of Health) dan US Department Of Health, serta AAP (American Academy Of Pediatrics).

Kelebihan ABA untuk penyandang autisme antara lain (tapi tidak terbatas pada ini saja), yaitu kurikulum yang sistematik, terstruktur dan terukur. Sistematik yaitu terapi dimulai dari tingkat kemampuan anak saat assessment (penilaian/pemeriksaan) dibuat, dan apakah prasyarat untuk mengajarkan/melatih aktivitas/program/kurikulum bersangkutan sudah dikuasai oleh anak, bila belum maka diajarkan/dilatih terlebih dahulu prasyaratnya. Kemudian, setelah suatu aktivitas dikuasai, dilanjutkan dengan aktivitas berikutnya yang sudah jelas urutan-urutan/tahapannya sampai program/kurikulum berakhir/selesai yaitu anak masuk ke dalam mainstreaming (yaitu anak masuk sekolah reguler, berkembang seperti anak lain sepantarannya, dan kemudian bisa hidup mandiri di masyarakat). Terstruktur, yaitu dalam mengajarkan/melatih suatu aktivitas/program/kurikulum, digunakan berbagai teknik terapan (misalnya DTT, DT, EO, dlsb) yang telah diteliti dan dikembangkan oleh para ahli dan praktisi ABA. Terukur, yaitu digunakan lembar penilaian sehingga kita semua bisa dengan yakin mengatakan bahwa seorang anak telah bisa/menguasai suatu aktivitas/program/kurikulum ataukah belum.

Pada berbagai penelitian, didapatkan bahwa anak-anak autistik yang diterapi dengan ABA mengalami kemajuan yang pesat dan signifikan dalam hal IQ, bahasa, kemampuan akademik, dan perilaku adaptif maupun perilaku sosialnya. Bahkan pada suatu penelitian, beberapa anak “mantan autistik” yang telah diterapi dengan ABA, dicampur (diikut sertakan) dengan anak-anak yang lain yang tidak pernah mengalami gangguan perkembangan apapun, kemudian dilakukan tes oleh para ahli. Ternyata anak-anak “mantan autistik” yang telah diterapi dengan ABA tersebut tidak dapat dibedakan dengan anak-anak lainnya yang tidak pernah mengalami gangguan perkembangan apapun dalam hal IQ, bahasa, kemampuan akademik, dan perilaku adaptif maupun perilaku sosialnya.

Keberhasilan penggunaan ABA pada penyandang autisme menjadi populer ketika Catherine Maurice menerbitkan bukunya pada tahun 1993 yang berjudul Let Me Hear Your Voice. Dalam bukunya tersebut dia menceriterakan keberhasilan dengan terapi ABA pada kedua anak autistiknya. Kisah Catherine Maurice tersebut memberi harapan kepada para orangtua yang selama ini telah dipaksa untuk percaya, bahkan oleh profesional, bahwa anak-anak autistik akan selalu tetap dalam keadaan buruk.

Di Indonesia, penggunaan ABA (Applied Behavior Analysis / Metode Lovaas) untuk penyandang autisme dipopulerkan dan disebarluaskan oleh Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS, SPdI sejak tahun 1997 melalui berbagai simposium, seminar, dan pelatihan yang diadakan oleh YAI maupun berbagai pihak lainnya (Universitas/Fakultas/ Rumahsakit/dll.). Dr. Rudy mempelajari ABA ini dari berbagai sumber termasuk ISADD (Integration Service for Autism and Developmental Delay), Perth, Australia;  The Option Institute, New York, USA; LIFE (Lovaas Institute For Early Intervention), Los Angeles, USA; dan PennState University, Pennsylvania, USA.

Biomedical Intervention

Biomedical Intervention adalah ilmu medis/kedokteran yang menterapi/ memperbaiki masalah nerobiologis dan biokimiawi yang terdapat pada autistik. Biomedical Intervention sebenarnyalah bukan merupakan merupakan ilmu baru, melainkan merupakan gabungan dari berbagai cabang ilmu, seperti misalnya toksikologi, nerologi, imunologi, gastroenterologi, hepatologi, biokimia, dlsb. Karena berbeda dengan penyakit-penyakit lain umumnya, yang hanya melibatkan terapi tunggal (umpamanya tifus hanya melibatkan pengobatan yang tertentu/ terbatas saja), oleh karena kelainan yang terdapat pada sistem nerobiologis pada anak adalah kelainan yang multi-facet yang meliputi hampir seluruh sistem tubuh yang ada.

Biomedical Intervention, terdiri atas restrictive-diet, medikamentosa (obat-obat), dan suplemen.
Pemberian obat-obat dan suplemen-suplemen pada Biomedical Intervention, ditujukan untuk mengobati/mengatasi masalah yang ada pada sistem nerobiologisnya, yaitu yang meliputi hampir seluruh sistem tubuh yang ada, misalnya sistem gastrohepatointenstinal, sistem detoksifikasi, sistem syaraf pusat (otak), dlsb.
Diet dilakukan terhadap berbagai makanan/bahan makanan apapun yang diketahui mempunyai efek yang tidak baik pada anak. Diet utamanya terhadap susu dan terigu yang disebut CFGFSF (Casein-Free, Gluten-Free, Sugar-Free) diet. Hal ini berdasarkan oleh karena terdapat masalah genetik pada penyandang autisme, maka protein casein dari susu dan bahan gluten dari terigu tidak seluruhnya dicerna secara sempurna, sehingga berubah menjadi peptida/morfin yaitu caseomorfin dan gluteomorfin.

Reply Retweet Favorite

Tokoh ABA Dunia
Terapi Autis Autism Autisme Autistik Metode ABA Lovaas Applied Behavior Analysis Liza Rudy Sutadi Biomedical Intervention Jakarta Indonesia
Prof. Ole Ivar Lovaas
Bapak ABA Dunia

Prof. Lovaas merupakan profesional pertama yang menerapkan ABA (Applied Behavior Analysis) untuk autisme. Dimulai pada tahun 1962, kemudian publikasi pertama pada tahun 1967, sehingga ABA untuk autisme dikenal juga sebagai Metode Lovaas.
Pada tahun 1993, Catherine Maurice menerbitkan bukunya yang berjudul Let Me Hear Your Voice, sehingga ABA terkenal ke seluruh dunia.
Dalam bukunya tersebut, Catherine Maurice menceriterakan tentang 2 anaknya yang autistik yang ditangani dengan ABA oleh Prof. Lovaas dan team, kemudian keduanya membaik sehingga tidak bisa dibedakan dengan anak lain.


Tokoh ABA Indonesia
Rudy Sutadi - Autisme - ABA (Applied Behavior Analysis) - Biomedical Intervention
Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS, SPdI
Bapak ABA Indonesia
Profesional Indonesia Pertama Yang Mempopulerkan Dan Menyebarluaskan ABA Untuk Autisme Di Indonesia

Dokter Spesialis Anak yang menangani Autisme ini merupakan profesional yang langka, karena menguasai dua Terapi Utama Autisme yaitu ABA (Applied Behavior Analysis) dan Biomedical Intervention.
Kiprahnya diakui secara nasional maupun di lingkup internasional.......selengkapnya
Dr. Rudy Sutadi, SpA, MARS, SPdI, adalah profesional Indonesia pertama yang menyebarluaskan dan mempopulerkan ABA untuk autisme di Indonesia, sejak tahun 1997.
Mempelajari ABA dari berbagai sumber, antara lain:
› LIFE (Lovaas Institute For Early Intervention), Los Angeles, USA
› PennState University, Pennsylvania, USA
› The Option Institute, New York, USA
› ISADD (Integration Service For Autism And Development Delay), Perth, Australia
› dan lain-lain


Liza Rudy Sutadi - ABA (Applied Behavior Analysis) - Terapi Autisme
Liza Anwar Rudy Sutadi, SE
Tokoh Penerus ABA Di Indonesia
"Hampir seluruh tujuan hidup saya sudah diwujudkan. Sekarang, keinginan saya lebih ke arah ibadah, antara lain dengan membagi ilmu yang saya punya"
Demikian pendirian Liza, yang merupakan penerus ABA (Applied Behavior Analysis) untuk autisme di Indonesia.
Liza merupakan penggagas backToABA, yaitu setelah beberapa lama mengamati dan mempelajari bahwa sampai saat ini hanya ABA-lah satu-satunya metode yang telah teruji melalui berbagai penelitian ternyata terbukti efektif dan efisien untuk mengajar dan melatih anak-anak autistik (autisme).
Namun beberapa tahun setelah dokter Rudy tidak dapat aktif, penggunaan ABA yang betul dan benar mulai terkikis, oleh karena itu Liza menggagas "Kembali Ke ABA" (Back To ABA)
Liza telah memberikan pelatihan ABA ke berbagai kota di seluruh Indonesia.
Pendapatnya tentang berbagai jenis terapi lainnya yang ada di Indonesia, Liza dengan tegas mengatakan "silahkan tunjukkan hasil penelitian metode tersebut untuk anak-anak autistik" (yang ternyata tak ada).



 

 


 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

Autis-Autism-Autisme Dari Masa Ke Masa
Epidemiologi Autis-Autism-Autisme
Autis-Autism-Autisme: Sembuh Atau Tidak Sembuh? Pilihan Di Tangan Anda!!!
Stem Cell Therapy (Terapi Sel Induk) Pada Autisme
Antibiotik Pada Autisme: Kawan Atau Lawan???
Pemilihan Metode Terapi Untuk Autisme
Autisme: Sembuh Atau Tidak Sembuh??? Pilihan Di Tangan Anda!!!
Dragons Den Dan Kesembuhan Autisme
Antara Ajax dan PHP -dengan- Autisme dan ABA (Applied Behavior Analysis)
Applied Behavior Analysis (ABA/Lovaas) Untuk Autisme
Terapi IVIG/IVGG Untuk Autisme
Me-Day Bagi Orangtua Penyandang Autisme
Perceraian Pada Keluarga Yang Mempunyai Anak Autistik
Jangan Benci Ibumu
Lie To Me (Bohongilah Aku)
Deteksi Dini Autisme
Biomedical Intervention Therapy Untuk Autisme
Masalah Rivalitas Pada Saudara Kandung Penyandang Autisme
Kontroversi Hubungan Antara Vaksin Dan Autisme
Jepang Menghentikan Penggunaan Vaksin Meningitis Dan Pneumonia
Penyebab Autisme
Terapi Intervensi Dini Pada Autisme
Melalui Epigenetik - Autisme Bisa Disembuhkan Dengan Obat
[Ringkasan 01 dari 17] ::: Biomedical Intervention Therapy Untuk Autisme
[ RINGKASAN 02 DARI 17 – BIOMEDICAL INTERVENTION THERAPY] MEMPERBAIKI DIET
[ RINGKASAN 03 DARI 17 – BIOMEDICAL INTERVENTION THERAPY] A L E R G I M A K A N A N

© 2011 - www.backToABA.com